Melihat ke Dalam Rumah Cina Sanssouci, Potsdam, Jerman
Menengok ke dalam Rumah Cina Sanssouci, di area Istana Sanssouci, Potsdam, Brandenburg, Jerman.
Muhammad Zamroni
Berlin, DE
Penasaran dengan isi Rumah Cina saat kami mengunjungi Istana Sanssouci tahun lalu, kami akhirnya berkesempatan mengunjungi dan masuk ke dalamnya, pada 16 Juli 2020 lalu.

Tahun lalu kami datang sudah terlalu sore dan penjualan tiket sudah ditutup, sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam.
Setelah mengunjungi Jembatan Glienicker, kami menuju ke kawasan istana musim panas Sanssouci yang dibangun oleh kaisar Prusia, yang sekarang menjadi wilayah Jerman, Friedrich Yang Agung.
Kami sengaja langsung mendatangi Rumah Cina yang berjarak sekitar 700 meter dari Istana Sanssouci.
Setelah membeli tiket seharga 4€ per orang dari sebuah loket yang bentuknya seperti bangunan peti kemas, kami pun masuk ke dalam rumah mungil yang dulunya digunakan untuk mendengar musik sambil minum teh.
Bangunan yang dirancang oleh Johann Gottfried Büring ini bergaya rococo yang memadukan banyak ornamen Cina.

Saat kami masuk, seorang bapak pemandu yang berjaga di dalam menjelaskan beberapa hal kepada kami tentang rumah ini.
Rumah cina ini dibangun karena kekaguman kaisar Friedrich akan budaya Cina yang saat itu masuk ke Eropa melalui jalur perdagangan.
Porselen cina, lukisan, sutera, dan komoditas Asia yang bagi orang Eropa terlihat indah dan menarik, rupanya juga menarik hati kaisar.
Karena sang kaisar dan si perancangnya sendiri belum pernah ke Cina, mereka hanya membayangkan bagaimana suasana di Cina, dan mulai menerapkan gaya-gaya Cina namun dengan sentuhan khas Eropa.

Saat pertama kali melihat patung-patung berlapis lembaran emas (gilded) di sekeliling rumah ini menggambarkan suasana minum teh dan bermain musik, namun terlihat jelas gaya-gaya patung dan raut muka Eropa terpahat di patung tersebut.
Seni patung merupakan seni yang sangat lazim di Eropa, padahal di Cina sendiri, seni patung saat itu kurang begitu dikenal.
Bentuk rumahnya pun juga berbentuk rumah ala Eropa, berbentuk bundar dengan atap lancip yang sangat jauh berbeda dengan arsitektur Cina.
Konser musik kecil sering dilangsungkan di dalam bangunan ini, karena sistem akustiknya yang luar biasa, bisa membuat suara musik lebih nyaring tanpa menggunakan amplifier atau perangkat audio modern.
Benar saja, saat pemandu meminta kami berdiri di tengah ruangan dan berteriak atau berbicara, suara akan memantul ke sana kemari dan membuat suara terdengar lebih nyaring.

Ada tiga ruangan kecil di dalam, yang dugaan saya digunakan oleh penonton melihat pertunjukan musik di tengah sambil minum teh dengan menggunakan peralatan makan porselen dari Cina.
Saat kami datang, ada salah satu ruang yang sedang direnovasi karena lantai kayunya lapuk dan keropos karena usia.
Mendongak ke atas, akan terlihat lukisan suasana minum teh di Cina yang dilukis oleh Thomas Huber.
Lukisan ini pun, meski sekilas terlihat seperti gaya Cina, namun sentuhan khas Eropanya sangat terasa, terutama di pemilihan warna dan figurnya.
Karena Raja Friedrich Yang Agung suka dengan monyet, maka di lukisan tersebut banyak gambar monyet, selain burung kaktua, merak, dan naga.

Saat saya bertanya apakah dulu di kawasan taman ini ada monyet, pemandu tersebut mengatakan tidak ada monyet di taman ini, dan seluruh hewan yang tergambar di lukisan itu sepenuhnya hasil imajinasi si pelukis.
Salah satu ketidakakuratan lukisan ini, terutama karena ketiadaan referensi pada saat itu, adalah gambar naga.
Naga merupakan makhluk legenda yang dikenal di Eropa dan Cina, namun kedua sosok makhluk ini sangat jauh berbeda.
Menurut kebudayaan Cina, naga merupakan mahkluk yang agung, makhluk setingkat dewa, sementara di Eropa, naga adalah makhluk jahat yang bisa dibilang sebagai iblis.
Bentuknya pun jauh berbeda, di mana menurut kebudayaan Cina, naga tidak memiliki sayap, sementara menurut kebudayaan Eropa, naga memiliki sayap.

Lukisan naga yang tergambar di atap rumah ini tentunya naga Eropa, dengan memiliki sayap.
Selain lukisan, ornamen berlapis emas di dalam rumah ini juga banyak menampilkan bentuk monyet.
Dinding bagian dalam terbuat dari marmer yang adem dan dihiasi dengan stucco alias ornamen khas.
Tak jauh dari rumah ini, terdapat sebuah bangunan yang dulunya berfungsi sebagai dapur, di mana makanan akan disiapkan di bangunan ini, kemudian dibawa ke Rumah Cina untuk dihidangkan.
Bangunan ini pun tak kalah cantik dengan bangunan Rumah Cina.
Tentu saja, secara umum bentuk bangunannya seperti bangunan pada rumah Eropa, hanya dengan menambahkan beberapa ornamen yang saat itu dipercaya berasal dari Cina.
Related Articles
Pingbacks & Trackbacks
1[…] Hingga setelah setahun kemudian, kami akhirnya bisa melihat masuk ke dalam. […]
Comments
6Naga versi custom... :D
Tapi di film film animasi, seingat saya naganya juga ada yang bersayap..
Kalau di sini yang bersayap itu kata-kata para politisi.., dan pembalut..
eh
Sentuhan kebudayaan cina pada arsitektur memang selalu punya kesan keindahan dan kemegahan. Seperti mesjid yang bernuansa cina di sini. Itu pun jadi favorit wisatawan.
oooh kirain naga di mana mana sama, taunya beda toh
Tak intip di wikipedia, bangunan ini dibikin sekitar pertengahan abad ke-18, ya, Mas? 1750-1760-an gitu. Kelihatan kalau dunia masih "luas" banget sampai-sampai orang sekelas kaisar di Jerman belum sempat ke China.
Dulu saya pernah baca soal perdagangan rempah dan jalur sutra, tapi konteksnya zaman Romawi. Banyak banget legenda (yang kayaknya sengaja dibikin) soal China yang beredar di Eropa. Ada yang bilang kalau sutra itu dibikin sama makhluk mitologis (laba-laba atau apa, ya...). Cuma kayaknya itu mitos sengaja disebarkan pedagang supaya harga komoditas dari Timur tetap tinggi. :D
Bagus, tapi memang unsur chinanya ga ada blasss :D. Seandainya aku ga baca isinya, aku bakal kira ini rumah Eropa biasa :D.
Salut Ama pelukisnya, juga perancang bangunan, Krn memang istananya luar biasa terlepas ga mirip samasekali dengan China yg dimaksud :D. Seandainya mereka sempet melihat seperti apa China dahulu sebelum merancang, hasilnya pasti luar biasa lagi
Menarik soal naga itu. 😇
BTW orang dan kebudayaan Cina membawa sejumlah hal baru bagi Eropa.
Maka orang Inggris menyebut "china" dgn "c" kecil untuk menyebut porselen.