Merayakan Idulfitri di Masa Pandemi

·
3 minutes
· 452 words · 45 views · 8 comments ·

Merayakan Idulfitri 1441 H dan ringkasan Ramadan di tengah pandemi Covid-19 dengan nasi kebuli.

Muhammad Zamroni

Muhammad Zamroni

Berlin, DE

Lebaran Idulfitri tahun 2020 ini sangat berbeda, meski tidak begitu banyak perbedaan yang kami rasakan sejak pindah ke Berlin, setahun lalu.

pelaksanaan salat Idulfitri di KBRI Berlin tahun 2019
pelaksanaan salat Idulfitri di KBRI Berlin tahun 2019

Kali ini lebaran Idulfitri dirayakan dalam suasana pandemi, di mana silaturahmi dan interaksi hanya bisa dilakukan secara berjarak yang dibantu dengan teknologi.

Bahkan salat Idulfitri tidak dilaksanakan secara berjamaah dan Pemerintah RI menganjurkan pelaksanaan salat Idulfitri dilakukan di rumah.

Jika tahun lalu salat Idulfitri dilaksanakan di aula gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, kali ini pelaksanaan tersebut ditiadakan, sesuai dengan instruksi keselamatan dari Pemerintah Republik Federal Jerman, yang melarang kegiatan berkumpul pada acara keagamaan.

Seluruh kegiatan silaturahmi pun dilakukan melalui online, baik lewat pangilan video WhatsApp, Google Meet, maupun Zoom.

Kami yang sudah terbiasa bersilaturahmi lewat panggilan video kini merasa punya teman sepenanggungan, karena banyak yang tidak pulang kampung atau tidak berkunjung ke sanak keluarga karena pembatasan terkait Covid-19.

nasi kebuli dan kerupuk putih hidangan Idulfitri
nasi kebuli dan kerupuk putih hidangan Idulfitri

Meski tanpa opor ayam, nastar, kaastengel, rendang, dan berbagai jajanan khas lebaran lainnya, kami tetap gembira menyambut hari raya.

Saya sudah mencoba mencari penjual nastar, kasstengel, atau kue-kue lebaran lain di Jerman secara online, namun tidak beruntung menemukannya.

Beberapa teman menyarankan untuk membuat sendiri, namun rasanya usaha untuk membuat sendiri kue-kue lebaran itu, terlalu berat buat kami yang dapurnya mungil.

Buat kami, membeli kue-kue lebaran jauh lebih mudah dan hemat daripada membuat sendiri.

Meski begitu, untuk mengobati kekecewaan, hidangan idulfitri kali ini, istri saya pun membuat hidangan istimewa, bukan rendang atau opor ayam, namun nasi kebuli!

Ramadan 1441 H

menggunakan masker untuk melindungi dari Covid-19 dan serbuk sari
menggunakan masker untuk melindungi dari Covid-19 dan serbuk sari

Suasana selama puasa kemarin juga bisa dibilang cukup lancar, meski bulan Ramadan tiba saat musim semi, pelaksanaannya tidak selama tahun kemarin yang pas berada di musim panas.

Puasa di Berlin dilakukan selama kurang lebih 17-18 jam, di mana Subuh dimulai pada sekitar pukul 03:00 dan Maghrib pada pukul 21:00.

Bila dibandingkan dengan tahun lalu, di mana puasanya bisa mencapai 20-21 jam, puasa tahun ini cukup lancar, apalagi kegiatan sehari-hari dilakukan di rumah karena aturan bekerja dari rumah.

Saking pendeknya malam, mulai tanggal 18 Mei hingga 8 Agustus 2020, jadwal salat Magrib dan Isya dilakukan secara serentak, sesuai informasi dari Rat der Imame und Gelehrten in Deutschland dan pada fatwa dari European Council for Fatwa and Research (ECFR) terkait waktu puasa dan salat tarawih di waktu musim panas.

Meski begitu, saya harus membatalkan 7 hari puasa pada hari-hari terakhir, karena batuk-batuk yang cukup mengganggu, sehingga saya harus minum untuk meredakan batuk.

Dugaan saya, batuk-batuk ini akibat dari serbuk sari yang banyak beterbangan dan menimbulkan reaksi alergi.

Namun tentu saja, saya harus mengganti puasa saya, yang mungkin akan saya lakukan di musim dingin, mengingat pada musim dingin, siangnya cukup pendek.

Möge Allah unser Fasten und unsere guten Taten annehmen! Eid Mubarak!

Related Articles

Pingbacks & Trackbacks

4

[…] pada siang hari, setelah selesai melakukan silaturahmi Lebaran secara online, saya pun membongkar kardus dan mulai […]

[…] pada hari Minggu, 17 Mei 2020, batuk saya sudah sangat mengganggu, saya terpaksa membatalkan puasa saya, dan kemudian membuat termin alias jadwal berkunjung ke […]

Ramadan 2026 — matriphe! personal blog

[…] Saya teringat saat awal-awal tinggal di Berlin, puasa jatuh pada musim panas, dan saya harus berpuasa sekitar 20 jam, dan merayakan Idulfitri di masa pandemi. […]

[…] Terakhir kali saya salat Idulfitri di aula KBRI adalah pada tahun 2019 sebelum kena pandemi. […]

Comments

8
gojeg
gojeg

Aku ndak pernah bisa mbayangin hidup di negeri orang gt mas. :))
Makanya seneng kalo baca cerita ginian.

swastika
swastika

Waaah warna nasi kebulinya mantap sekali!!! Mlekooooh... Kebetulan bulan ramadan kemarin aku pun cobain bikin nasi kebuli sendiri di rumah tapi warnanya nggak semenarik ini :)

Antyo®
Antyo®

Yang penting kita bersyukur kan ya?
Semoga cepat reda itu alergi serbuk sari.

Kelak setelah normal (baru) semoga bisa masak pecel lele, embuh di mana cari lele 😁

duniamasak
duniamasak

selamat hari raya idul fitri kak, sehat selalu yaaa :D

morishige
morishige

Kang, saya kemarin juga dibikinin nasi kebuli. Kok bisa sama gitu, ya? Hehehe

Beuh, 17-18 jam? Keknya kalau mesti puasa selama itu, pas buka puasa saya bakalan kliyeng, Mas Zam.

Selamat Idul Fitri, Mas. :)

Alvie
Alvie

Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, semoga Allah memberkahi kita semua...

Daeng Ipul
Daeng Ipul

gimana rasanya itu puasa 20 jam? hahaha
udah sempat tidur dulu sebelum berbuka ya

Muhammad Zamroni
Muhammad Zamroni Author

buka dirangkap sahur 😆

dirmanto.web.id
dirmanto.web.id

Mohon maaf lahir bathin ya mas, salam untuk keluarga. Wah.. coba kalau di Indonesia, kami buatkan kasstengelnya. :)

Comments are closed.