Berpindah ke Linode dan Tema Baru 2017: Upus

·
4 minutes
· 609 words · 443 views · 7 comments ·

Berpindah dari Digital Ocean ke Linode dan mendapatkan $20 serta peluncuran tema baru 2017.

Muhammad Zamroni

Muhammad Zamroni

Berlin, DE

Setelah cukup lama saya menggunakan layanan cloud Digital Ocean sejak Februari 2014, saya memutuskan untuk pindah ke layanan cloud Linode.

Selama ini saya tidak mengalami masalah selama menggunakan Digital Ocean, hanya saja, godaan harga yang lebih murah, membuat saya memutuskan untuk berpindah. Selain itu, promo gratis kredit sebesar $20 saat mendaftar melalui tautan ini membuat saya memutuskan untuk mencoba.

Membandingkan kedua layanan ini, tentu akan selalu ada kelebihan dan kekurangannya. Saya coba bagikan beberapa berdasar pada pengalaman pribadi saya.

Digital Ocean

tampilan dashboard Digital OceanLayanan cloud berbasis di New York, Amerika Serikat, yang berdiri pada Juni 2011 ini merupakan salah satu pionir dalam layanan cloud murah nan berkualitas. Pada masa itu, layanan VPS masih begitu mahal dan tidak mudah untuk diset.

Digital Ocean menjanjikan kinerja cepat karena berbasis SSD (Solid State Disk), murah, dan mudah pengelolaan hanya dengan beberapa klik saja.

Paket yang ditawarkan cukup menggiurkan, dengan $5, VPS dengan spesifikasi RAM 512 MB, CPU 1 core, media simpan 20 GB, dan jatah transfer 1 TB/bulan, cukup menggiurkan. Selain itu ketersediaan node di Singapura, menambah nilai lebih.

Antarmuka di situsnya juga memudahkan dan cukup informatif. Membuat droplet (sebutan sebuah server di Digital Ocean) hanya membutuhkan beberapa kali klik. Digital Ocean juga menyediakan statistik sederhana droplet yang berisi informasi bandwidth, kinerja CPU, dan kinerja disk I/O.

Namun ada beberapa kejadian tidak mengenakkan yang menimpa beberapa pengguna Digital Ocean, di mana karena kegagalan infrastruktur, data dan server pengguna hilang begitu saja. Jika pengguna mengaktifkan layanan pencadangan, di mana ada biaya terpisah untuk ini, masih bisa bernafas lega.

Salah satu yang membuat sesak adalah cerita mbak Istofani berikut ini.

Jika ingin mencoba layanan Digital Ocean, coba mendaftar dan dapatkan kredit $10. Jika berencana menggunakannya untuk produksi, pastikan untuk mengaktifkan cadangan, baik dengan cara snapshot atau menggunakan cara lain.

Linode

tampilan dashboard LinodeLinode sendiri merupakan perusahaan hosting yang lebih tua dari Digital Ocean. Berdiri pada tahun 2003, perusahaan yang bermarkas di New Jersey, Amerika Serikat ini termasuk pemain lama.

Tak mau kalah bersaing, Linode juga menawarkan paket VPS berbasis SSD murah.

Yang membuat saya goyah dan memilih pindah, sejak 14 Februari 2017, Linode menawarkan paket $5 untuk mendapatkan spesifikasi RAM 1 GB, CPU 1 core, media simpan 20 GB, dan jatah transfer 1 TB/bulan. Paket yang hampir sama dengan yang ditawarkan Digital Ocean, bedanya hanya di ukuran RAM.

Seperti halnya Digital Ocean, Linode juga menyediakan node di Singapura.

Meski tampilan antarmuka Linode tidak secantik Digital Ocean, namun sebagai pengembang, tampilan Linode ini merupakan tampilan yang lengkap dan informatif. Ditambah, Linode mempunyai aplikasi Android untuk memudahkan pemantauan instance yang dimiliki.

Yang lebih asyik, Linode menyediakan Longview, sebuah aplikasi untuk melakukan monitoring dan analisis performa dari instance yang digunakan.

Jika ingin mencoba layanan Linode, coba mendaftar melalui tautan ini untuk mendapatkan $20 yang bisa digunakan secara gratis.

Tampilan Baru 2017: Upus

tampilan tema UpusBerpindah ke server baru membuat saya memutuskan untuk sekalian mengganti tampilan. Tema yang saya buat pada pertengahan Maret 2017 ini saya beri nama Upus.

Tampilan ini saya buat ringkas, responsif, dan cepat untuk dimuat. Saya menghilangkan beberapa plugin dan hal-hal tidak penting bawaan dari WordPress pada tampilan ini.

Dengan berbasis pada Bootstrap 3, icon dari Simple Line Icons, dan Font Awesome, saya membuat tema ini dengan memanfaatkan SASS dan Webpack.

Menggunakan SASS dan Webpack merupakan sebuah pengalaman baru bagi saya dalam pengembangan frontend.

Seperti tema sebelumnya, tema ini masih menggunakan warna dominan teal berpadu dengan deep orange yang saya ambil dari palet warna Material Design.

Informasi statistik artikel saya ambil dari hasil statistik Wordpress. Informasi ini tersedia jika telah terhubung ke layanan WordPress.com melalui plug-in Jetpack.

Saya menggunakan font Roboto dan Ubuntu  yang saya ambil dari Google Fonts.

Tema Upus juga telah mendukung AMP (Accelerated Mobile Pages) di mana halaman blog akan dikemas ulang oleh Google untuk meningkatkan kecepatan buka. Tampilan AMP juga akan membuat halaman lebih mudah dibaca.

Related Articles

Pingbacks & Trackbacks

3
matriphe! personal blog — Tema 2018: Meng

[…] tahun kemarin saya menggunakan tema blog Upus, kini saya mengganti tema blog saya di tahun 2018 ini dengan tema […]

[…] Proyek iseng tersebut akhirnya terhenti karena waktu itu saya melakukan migrasi server. […]

[…] Rasanya ini adalah kejadian pertama saya mengalami gangguan seperti ini sejak berpindah menggunakan Linode pada 1 Januari 2017. […]

Comments

7
Faizal
Faizal

Sudah pernah intip vultr.com pak? dengan $5 media simpan nya lebih besar dan ada yang cuma $2.5 juga

Muhammad Zamroni
Muhammad Zamroni Author

saya pernah coba Vultr. waktu itu dapat promo juga. Vultr tidak ada keluhan juga sebenarnya. Saat saya sudah dalam proses pindah ke Linode, eh si Vultr bikin promo $2.5 itu. tapi karena saya ingin RAM bertambah, tetep pindah ke Linode.

Jauhari
Jauhari

Apik ZAM, iki bisa di RE GUNAKAN si UPUS? nek iso minat nganggo :)))

Muhammad Zamroni
Muhammad Zamroni Author

duh apalah <em>theme</em> ini bila dibandingkan dengan legenda <em>theme</em> Wordpress Indonesia..

Jauhari
Jauhari

Nampilin Angka dibaca, di bagikan etc2 itu make JETPAK Zam? with plugin atau KUSTOM kode? Share dong how to how nya :)

Muhammad Zamroni
Muhammad Zamroni Author

pake cara tersendiri. kalau sempat nanti coba saya tuliskan saja caranya, ya..

snydez
snydez

belom pernah hosting di luar , masih belum <em>pede</em> hehhe

Riko
Riko

Om, kalau tanpa promo kan Vultr dan Linode harga sama dapat spec kurang lebih sama.

Nah mendingan mana menurut om?

Saya ingin coba Linode 4GB karena ngetest support mereka mantap dan sepertinya lebih terpercaya dibandingkan Vultr karena EV SSL.

Cuma koq di beberapa test speed Linode paling lambat dibanding DO dan Vultr... hahaha

Oiya om sekarang pakai paket apa? saya pakai wordpress, theme emang agak fancy scriptnya, dan high graphic, banyak image resolusi besar disana dan plugin yang berat, walau blog post paling cuma 20 post doang, konsultasi sama orang server katanya saya butuh VPS 4GB, cuma koq feeling saya agak overpowered ya? secara UV saya sebulan paling 5000 doang.

Menurut om gimana nih? Apakah 2GB sudah cukup powerfull?

Muhammad Zamroni
Muhammad Zamroni Author

kalo untuk speed, ini tergantung juga dengan route ISP yang digunakan. jadi ngga bisa dijadikan patokan.

untuk spek, tergantung kebutuhan dan setting server juga. ini aku pake Nginx dan PHP7 untuk WordPress dan beberapa situs mainan, dengan RAM 1 GB masih lumayan. untuk RAM 4 GB sih harusnya lebih dari cukup.

karena ini basisnya cloud VPS, bisa start di 2 GB, dan jika tidak cukup, tinggal upgrade saja dengan mudah.

acha achep
acha achep

untuk paymentnya kagak bisa pake paypal ya gan?

Yahya
Yahya

Kalo layanan lokal yang mirip-mirip DigitalOcean atau Linode apa ya?

Comments are closed.